Pelajar Lemah
#2
Aku sampai di sebuah desa bernama Sitiarjo, desa yang
dikelilingi pegunungan kapur dan sawah. Deretan makam menyambut kedatanganku.
Jalan yang dilalui tampak halus, namun seperti biasa, itu hanya beberapa kilo.
Setelahnya, jalan berlubang sangat mudah dijumpai namun agak sulit dilewati.
Dari deretan makam yang aku liat dengan beberapa tanda salibnya, aku bisa
menyimpulkan bahwa kebanyakan penduduk desa Sitiarjo adalah Kristen.
Setelah jalanan berlubang, kontur jalanan berubah menjadi
jalanan bersemen nan berlumpur, sebelah kiri jalan tampak sebuah sungai besar
dengan airnya yang keruh dan kecoklatan.
Singkat cerita, mas Nugra berkata padaku bahwa daerah
yang kita tuju adalah daerah rawan banjir. Hal itu sangat terbukti dari lumpur yang
ada di depan rumah warga. Tidak hanya itu, garis pasang surut banjirnya pun
jelas terlihat di setiap tembok rumah warga. Ketinggiannya hampir menyentuh
atap. Lalu aku berpikir bagaimana warga di sini bertahan hidup jika ancaman
banjir selalu mengintai di musim hujan ini.
Sampailah kita di sebuah rumah sederhana di kaki
bukit, rumah itu adalah rumah kerabat mas Nugra, tepatnya rumah adik dari ibu
mas Nugra. Dari sebuah jendela, aku bisa melihat dua orang laki-laki sedang
berbincang. Benar saja, saat aku memasukinya, mereka sedang asyik ngobrol dan
menyeruput kopi. Dengan kehangatan, mereka menyambut kami, mempersilahkan duduk
di kursi kayu.
Dua orang laki-laki yang aku lihat dari luar rumah
melalui jendelanya adalah seorang ayah dan anaknya, pak Min dan mas Jo. Pak Min
hanya refleksi seorang bapa pada umumnya sedangkan mas Jo adalah bujang
tanggung yang aku tebak usianya sekitar 25 tahunan. Mas Nugra tampak akrab
berbincang dengan mereka, aku dengan teliti mendengarkan apa yang mereka
bicarakan.
Dari perbincangan yang aku dengarkan, ternyata pak Min
baru saja pulang dari negeri seberang, Malaysia, akhir Agustus lalu. Pak Min
bercerita bahwa kehidupan di negeri Jiran tak berbeda dengan di Indonesia. Ia
memutuskan untuk merantau atas ajakan seorang saudaranya. Mereka bekerja
sebagai kuli bangunan di sana.
***
Komentar
Posting Komentar