Pelajar Lemah
#2 Aku sampai di sebuah desa bernama Sitiarjo, desa yang dikelilingi pegunungan kapur dan sawah. Deretan makam menyambut kedatanganku. Jalan yang dilalui tampak halus, namun seperti biasa, itu hanya beberapa kilo. Setelahnya, jalan berlubang sangat mudah dijumpai namun agak sulit dilewati. Dari deretan makam yang aku liat dengan beberapa tanda salibnya, aku bisa menyimpulkan bahwa kebanyakan penduduk desa Sitiarjo adalah Kristen. Setelah jalanan berlubang, kontur jalanan berubah menjadi jalanan bersemen nan berlumpur, sebelah kiri jalan tampak sebuah sungai besar dengan airnya yang keruh dan kecoklatan. Singkat cerita, mas Nugra berkata padaku bahwa daerah yang kita tuju adalah daerah rawan banjir. Hal itu sangat terbukti dari lumpur yang ada di depan rumah warga. Tidak hanya itu, garis pasang surut banjirnya pun jelas terlihat di setiap tembok rumah warga. Ketinggiannya hampir menyentuh atap. Lalu aku berpikir bagaimana warga di sini bertahan hidup jika ancaman banjir ...