Andai Aku Punya Orang Dalam
Andai Aku Punya Orang Dalam
![]() |
| TKP seorang ibu memarahiku |
Sabtu pagi bunyi alarm membangunkanku. Namun alarm
nampaknya gagal mengemban tugasnya. Aku telah bangun lebih dulu. Kubuka sebuah
note kecil senjata liputanku, kutulis beberapa pertanyaan untuk nanti. Aku siap
dan yakin semua akan baik-baik saja dan sesuai dengan apa yang aku bayangkan. aku
siap dengan semua bahan, pulpen, ponsel dengan full battery dan mental pastinya.
Aku putuskan bergegas dan menunggu angkot untuk munuju
tempat yang aku mau, tentunya dengan sedikit keringat. Jarak antara tempat
angkot berhenti dengan kosku memang agak jauh. Tak apa, aku sudah biasa. Sebuah
angkot pink keunguan berhenti, aku memasukinya. Tak ada seorangpun di dalamnya
kecuali aku dan si supir.
Di sebuah terminal yang menurutku sangat bagus aku
berhenti. Aku duduk di tempat penumpang biasa menunggu. Sebelumnya setelah
kurang dari 15 menit perjalanan, aku disambut seorang pekerja yang sedang
mengecat pembatas trayek berwarna biru dan putih. Aku sempatkan mengambil
moment yang ada. Sekitar sepuluh menit aku mengamati sekeliling dengan kaca
mata pandangku. Lengang dan sepi, sesekali bis Bagong lewat dan melakukan uji
kelayakan berkendara dan setelah itu pergi.
Aku putuskan untuk menikmati geliat pasar tradisional
yang berada di depan tempat tadi. Aku memang menyukai suasana pasar, bau becek,
bau barang-barang baru, bau daging, bau buah-buahan, dan keringat para songgol,
penjual dan pembeli yang campur aduk jadi satu tentunya. Aku memasuki pasar
yang berada di tanjakan itu, tidak ada yang spesial menurutku. Pasar itu sama
dengan pasar-pasar yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Aku memutuskan untuk
masuk ke sebuah gang, harum pakaian baru tercium. Aku suka itu. Namun hal yang
tidak mengenakkkan bagiku terjadi. Saat aku mengambil gambar sebuah toko yang
berjajar dalam keadaan tutup, seorang wanita paruh baya penjual celana tiba-tiba
memarahiku. Jujur aku tidak tahu alasan dia marah terlebih dengan logat Jawanya
yang kentara. Aku putuskan untuk pergi dari omelan wanita berkerudung merah
itu.
Kembali di tempat menunggu, aku duduk di tempat yang
sama. Ada seorang anak yang aku tebak dia berusia 14 tahun. Dia menyapaku,
menawarkan rorkok dan memulai pembicaraan. Singkat cerita dia akan melakukan
perjalanan ke tempat asalnya, Ponorogo. Aku kaget saat dia menceritakan bahwa
dia sudah bekerja sebagai kuli bangungan. Bis tujuan kota asalnya sudah datang,
dengan terburu-buru sambil menenteng gitar dia mulai lenyap memasuki bis yang
penuh sesak.
“Hati-hati…” aku menutup pertemuan singkat itu.
Aku siap dengan apapun yang akan terjadi, bisa atau
tidak. Aku genggam note list pertanyaanku. Aku berjalan tenang menuju kantor
yang mepet dengan jalan raya. Aku memulai salam kepada seorang pegawai yang
bertugas di depan komputer. Aku jelaskan sejelas-jelasnya maksud kedatanganku. Di
luar dugaan, aku tidak diizinkan meminta informasi apaun itu.
“Harus ada surat pengantar, Mas.” Sarannya.
Tak apalah, mungkin aku bisa mencari bahan liputan
lain. Saat aku berbalik badan untuk kembali ke tempat duduk. Seorang petugas
lain datang memasang badan di depanku dan memulai pembicaraan dengan nada
tinggi dan tidak mengenakkan. Dari raut wajah bapa tua itu, aku bisa asumsikan
bahwa dia tidak suka dengan kehadiranku dan caraku menjelaskan maksudku. Aku merasa
bahwa aku menjelaskan maksudku dengan seramah dan sesopan yang aku bisa. Jika memang
caraku salah, mungkin petugas pertama yang aku temui sudah mengusirku. Tapi saat
itu memang menguji kesabaranku dan aku berhasil menahan amarahku. Aku menjelaskan
dengan baik kepadanya. Tapi, tetap saja nihil. Kemudian seorang petugas yang
tingginya sama denganku ikut dalam pembicaraan, dia datang dengan tiba-tiba. Nampaknya
pria berkumis itu berusaha melerai walaupun itu sama sekali bukan perkelahian. Sungguh
pria yang baik, masih bisa tersenyum ke padaku. Dia menjelaskan semuanya
tentang prosedur yang harus aku penuhi. Aku paham dan dia memintaku menunggu
atasannya datang.
Kurang lebih satu jam, aku menunggu hingga petugas
yang melerai “perkelahiannku” datang.
“Mas, silahkan.” Dia membawaku ke sebuah ruangan.
“Monggo
duduk, mas.” Dia menyuruhku duduk sambil menundukkan badan.
Aku duduk di sebuah kursi yang posisinya bisa diputar
360 derajat. Aku berhadapan dengan seoarang atasan. Kujelaskan panjang lebar
maksud kedatanganku. Nampaknya bapa bergigi putih itu sedikit agak bingung
walaupun aku sudah menjelaskan berkali-kali. Tapi intinya dia menyuruhku
membuat surat pengantar untuk bisa menggali informasi tentang tempatnya
bernaung.
“Aku tidak bisa.” Aku bergumam dalam hati.
Aku pergi meninggal ruangan yang sentiment itu. Saat aku
keluar, aku palingkan muka kepada bapa yang emosinya tak terkontrol tadi
sementara aku tersenyum ramah kepada bapa pelerai.
Nampaknya masih pukul Sembilan seperempat. Aku berjalan
menuju kampus untuk berlatih drama. Tak peduli berapa jauh aku melangkah di
antara angkot-angkot yang berhenti menawariku tumpanagan, aku hanya berharap ada
ide datang kala kakiku masih kuat menapak. Namun tak ada.
Terkadang
apa yang kita inginkan tidak selalu sama dengan kenyataan dan hal tak terduga
selalu datang dengan tiba-tiba. Namun, tetaplah berbuat baik dengan siapapun
dan di manapun. Perlakukan semua orang sebaik yang kita bisa. Tetap optimis
dengan segala hal buruk yang pasti terjadi.
“Andai aku punya orang dalam.” Aku bergumam dengan
hati lapang.
-Di beberapa tempat dalam pemenuhan tugas upgrading-

Komentar
Posting Komentar