Pelajar Lemah



#1
22 November 2017

Peralatan tempur
Alarm terdengar melengking. Aku terbangun seketika dan sejenak meregangkan otot-otot kaku. Hari itu adalah hari Rabu di mana aku nampaknya agak sedikit menyerah, tepatnya luluh dengan godaan jatah tidak masuk kuliah. Ditambah lagi dengan tugas dan materi yang menguras otak sampai keluar sari-sarinya. Aku mahasiswa lemah.
 
Belum sempat beranjak dari singgasana, bunyi sebuah pesan WA masuk mengejutkanku. Mas Nugra bertanya padaku kapan aku libur. Aku balas saja bahwa aku hanya mempunyai hari libur Sabtu dan Minggu, selain itu aku bergelut dengan materi dan teori tentang bahasa. Mas Nugra nampaknya ingin mengajakku keluar. Tebakanku benar, ia mengajakku memancing ke pantai Sendiki di Malang Selatan sana. Tanpa pikir panjang aku iyakan ajakannya.
“Aku pake jatah absenku jadi no worry, mas” balasku pada mas Nugra.

Apakah aku mahasiswa lemah? Aku iyakan dalam hati. Saat itu adalah pertama kali aku dengan polosnya memakai jatah absen. Jika dinalar aku hanya jenuh dan itu wajar padahal jujur saja bertemu dengan teman-teman sekelas aku sudah bahagia. Mereka mampu mengusir kejenuhanku.

Ku kirim pesan WA kepada Ayul dan Yula bahwa aku tidak bisa hadir di perkuliahan karena sakit. Mereka memberiku semangat agar aku cepat sembuh. 

Teruntuk Ayul dan Yula maafkan aku sudah berbohong. Tapi, terimakasih you are really my best girls. Teruntuk teman yang lainnya, terimakasih untuk kalian yang terus bertanya sakit apa yang sebenarnya aku rasakan. Kalian memang perhatian.
“Pakai jatah absenmu, kapan lagi kan?” Kata-kata Dimas tertancap hebat di kepalaku.

Pantai Sendiki
Berangkat dari hasutan Dimas yang ahli memakai jatah absen, aku bersiap dan menunggu mas Nugra menjemputku. Baju di lemari sudah menipis, tetapi aku lihat pakaian kotorku menumpuk di keranjang laundry.  Hanya satu kaos Politeknik Singapura warna putih yang tersisa pun dengan celana dan outerku. Ku slempangkan tas tenun Lombok di pundakku. Aku siap.
 
Mas Nugra terlihat sangat siap dengan tas anjat yang berisi alat memancing, tas backpack lengkap dengan kopi dan air putih dalan botol Tupperware yang berbeda warna. Ia letakkan kedua botol itu di samping kanan dan kiri tas.

Sepanjang perjalanan apalagi saat melewati kerumunan mahasiswa di jalan belakang kampusku, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Andai saja aku masuk pasti sekarang aku sedang mendengarkan penjelasan pak Riski atau mungkin sedang menunggu jam selanjutnya. Entah kenapa, memoriku dengan lancangnya memikirkan sosok ibu di rumah yang baru saja aku telpon semalam.
“Bu, kali ini saja kok, aku janji.” Desiran kalbu menyerbu hatiku.
Ahh…  lupakan!
It’s time to be happy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Andai Aku Punya Orang Dalam

Apakah Ini Tanda?

Pulang Kampung Be Like!