Malang Tempo Doloe, Obat Rindu Masa Lalu
*Tulisan di bawah ini merupakan salah satu tugas upgrading namun di posting dengan beberapa perubahan.
Sepenggal bait lagu Malang Tempo Doeloe yang diputar berulang kali menyambut kedatangan
masyarakat dalam Festival Malang Tempo Doeloe: Kelapa Jadi Apa. Festival yang sempat vakum itu bertempat di
Simpang Balapan Kota Malang yang merupakan pacuan kuda jaman Belanda. Digelar
dari pukul 08.00 – 23.00 di hari Minggu tepat pada tanggal 12 November 2017,
festival itu menyajikan hal-hal menarik dari Kota Malang jaman dahulu.
![]() |
| Sekelompok ibu-ibu sedang berfoto bersama dengan Walikota Malang. |
Persatukan
warga Malang dari berbagai kalangan
Beberapa kelompok ibu-ibu terlihat
sedang bersiap-siap dengan menghamparkan tikar di muka panggung utama yang menghadap
ke Ijen Boulevard. Mereka adalah peserta
parut kelapa yang berasal dari 200 lapisan masyarakat Bumi Arema, termasuk
kelurahan dan sekolah. Tidak hanya ibu-ibu, bapak-bapak pun ikut andil
meramaikan. Berbaju beskap dan blangkon, mereka siap dengan parutan dan kelapa
di tangannya. Sementara itu, anak-anak sekolah mengikuti di belakang barisan
sambil meneriakan nama sekolah mereka.
![]() |
| Mayarakat Malang berkerumun di tempat diadakannya FMTD |
Kilas
balik bangunan tua Kota Malang
Bagi pengunjung yang ingin
mengetahui beberapa informasi gedung dan tempat bersejarah di Kota Malang jaman
dahulu. Informasi itu bisa pengunjung lihat melalui banner yang terbentang lebar mengelilingi patung Hamid Roesdi di
bundaran Simpang Balapan. Terdapat informasi seputar nama-nama tempat terkenal
di Malang seperti Korem 0833 di jalan Bromo yang ternyata adalah sebuah hotel
berarsitektur kolonial bernama Hotel Astor. Pengunjung mungkin akan terkejut
setelah membaca informasi terkait SMAN 2 Malang yang menjadi markas pasukan
Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Gedung itu masih berdiri kokog di
jalan RE Marthadinata kecamatan Sukoharjo, kecamatan Klojen.
Nostalgia
jajanan jaman dulu
Selain bisa melihat ramainya
masyarakat Malang memarut kelapa, pengunjung bisa berpindah ke arah jalan Ijen
Besar atau jalan Pahlawan untuk melihat stand
jajanan khas jaman dulu. Ada permen gulali, cenil, gethuk, harum manis, jamu
dan kuliner khas lainnya. Seluruh jajanan itu dijual di stand yang terbuat dari bambu dan daun sagu kering. Tidak melulu
tentang kuliner, pengunjung bisa membeli uang kuno, lonceng keramik Dinoyo,
beskap, dan blangkon.
Abadikan
moment bersama sepeda onthel dan
panser
Jika pengunjung lelah berkeliling
di stand-stand makanan, tak ada
salahnya mengabadikan moment berfoto
bersama dengan sepeda onthel beserta pemiliknya. Berpakaian khas tentara jaman
dahulu, mereka siap melayani pengunjung yang ingin berfoto bersama. Keunikan sepeda
onthel nampaknya menarik banyak perhatian, apalagi ditambahnya aksesoris
seperti bendera dan sound system.
![]() |
| Berfoto bersama salah satu prajurit tempur. |



Komentar
Posting Komentar