I Left My Heart on Ngantep
I left my heart on Ngantep
2 November 2017
Tepatnya setelah ujian tengah semesterku usai, Mas
Sutra mengajakku mancing ke pantai. Ya, memang rencana mantai sudah kita
rencanakan jauh-jauh hari. Jadi inilah waktu yang pas dimana aku punya waktu
luang dan pekerjaan mas Sutra pun tidak terganggu. Senang? Pasti. Syukur
Alhamdulillah aku dapat mengenal orang yang bisa mengenalkanku pada hal-hal
baru, berjualan pisang, mancing di pantai, bercengkrama dengan orang-orang
pantai dan sedikit lelucon tentang pacar. Haha.
Mas Sutra adalah anak dari bapak Purnomo yang
merupakan tuan rumah waktu ada kegiatan di Batu. Sungguh mereka tuan rumah yang
baik, masakan mereka enak, mereka ramah, dan mampu membuat tamu betah untuk
tinggal. Setelah kegiatanku usai, komunikasi dengan mereka masih berlanjut,
sering aku mengunjungi mereka untuk sekadar main, melepas rindu dan meraskan
momen saat satu rumah dengan meraka dan teman Singapuraku, Kai.
Sekali dalam dua minggu, menjadi rutinitasku ke sana
hingga aku akrab dengan mas Sutra. Tercetuslah ide untuk mancing ke pantai. Mas
Sutra memang hobi mantai dan jalan-jalan. Aku iyakan ajakannya. Kamis siang
sekitar jam sepuluhan, setelah mas Sutra selesai berjualan, kita berangkat ke
pantai yang kita tuju, pantai Ngantep. Dua jam perjalanan kita tempuh melewati
jalanan malang yang khas, kadang mulus kadang bergelombang. Sungguh kisah yang
klasik. Dua jam memang tidak terasa, apalagi diselingi dengan obrolan ringan
tentang apapun saat di perjalanan. Aku senang.
Sampai di tempat yang kita tuju. Sebuah gapura bergaya
semi jepang menyambut kita, jalan Nampak terlihat halus dan mulus, hingga
akhirnya itu hanyalah sebuah pembuka yang manis, sekitar satu kilo dari gapura
selamat datang, jalan berubah 117 derajat. Terjal, berbatu dan berdebu. Tidak
apa-apa, toh kita sebentar lagi sampai. Kanan kiri jalan masih Nampak asri,
pohon-pohon khas pesisir menemani kami. Sampailah kita di pintu masuk pembelian
tiket, Rp. 15.000 per orang. Mas Sutra berkata kalau dirinya biasa tak membayar
tiket jika masuk ke pantai, pantai manasaja yang pernah ia kunjungi. Mas Sutra
memberikan rahasia kenapa bisa lolos dari jerat pembayaran tiket. “Sron,
biasanya aku langsung masuk, bilang saja mau mancing.” Jelas mas Sutra.
Sesimpel itu?
Welcome to pantai Ngantep.
Setelah masuk, kita tidak langsung menuju ke tempat parkir.
Mas Sutra mengarahkan motornya untuk melihat-lihat sekitar barangkali ada
tempat untuk tidak parkir di tempat yang jauh itu. Capek juga kalau jalan kaki
dari tempat parkir ke bibir pantai. Ada satu tank terparkir gagah di tepi
pantai. Ada banyak peleton tentara sedang duduk di tanah. Di belakang mereka
tergeletak tas pola prajurit yang khas, tergeletak dengan rapi juga. Hmm,
mereka sudah mengaturnya. Ya, mereka sedang melakukan pelatihan. Terdengar teriakan
dari senior-senior mereka. Semua mata prajurit menuju kepada kami seketika kami
lewat untuk mencari parkiran terdekat. Akhirnya, di sebuah warung yang dihuni
dua nenek-nenek ramah, mas Sutra memarkirkan motornya, tentunya dengan izin
mereka. Sungguh ramah mereka, pun dengan
mas Sutra.
Setelah memarkirkan motor, kita menuju ke sebuah
gazebo untuk mempersiapkan semua peralatan mancing. Di kejauhan, terlihat dua
sejoli sedang bermain air. Si cewe terlihat manja, tidak mau terlalu mendekati
ombak, padahal akhirnya basah juga. Mas Sutra selesai dengan peralatan mancingnya.
Ada lima buah pendulum dari batu yang dibungkus plastic sebagai pemberat.
Jujur, aku penasaran. Itu semua baru bagiku. “Sron, ayo…” ajak mas Sutra.
Kita langsung menuju ke bibir pantai. Mas Sutra siap
dengan peralatan mancingnya yang ia taruh di dalam tas anjat. Melipir ke sebuah
karang besar, mas Sutra melakukan survey, aku mengikuti di belakangnya.
“Tempatnya ga bisa buat mancing, ayo pindah, Sron.” Ajaknya. Mas Sutra
memastikan untuk mancing di bibir pantai saja. Mas Sutra terlihat sangat siap,
umpan udang ia lilitkan ke kail. Jujur, bau udangnya sangat mengganggu haha.
Tapi tak masalah bagiku.
Mancing dimulai
Siap dengan pancingannya, mas Sutra melemparkan
kailnya jauh-jauh mengarah laut. Aku baru tahu, pendulum yang tadi dibuat
ternyata itu fungsinya, membawa kail jauh melayang hingga mendarat di tengah
ombak. “Oh, seperti itu.” Aku berkata dalam hati. Mas Sutra focus mancing. Aku
berlarian sepanjang pantai. Bibir pantai Ngantep memang sangat luas, dan
sepadan dengan ombak yang sangat besar juga. “Sron, hati-hati ya!” pesan mas
Sutra.
Setelah beberapa menit, tidak sampai satu jam. Mas
Sutra terlihat mengulur pancingannya.
“Mas, dapet?” tanyaku.
“Belum, Sron.” Jawab mas Sutra.
Bodohnya aku menanyakan hal itu, memancing di laut
tidak segampang itu. Pasang umpan langsung dapat. Terlihat mas Sutra sudah ahli
sekali. Sesekali medekati laut, hingga dekat sekali. “Apa mas Sutra tidak
takut.” Gumamku, memang perawakan mas Sutra sama denganku tentunya dengan
sedikit perbedaan. Badanku saja sekali angin bertiup kencang, serasa mau
terbang.
“Sron, hati-hati ya!” Ulang mas Sutra.
Mas Sutra mengulur pancingnya lagi dan lagi. Masih
tetap sama, ikan masih belum memamakan umpannya. Dua orang bapa-bapak terlihat
menghampiri pantai, aku tebak mereka juga akan memancing. Yap, benar saja.
Mereka siap dengan alat pancingnya masing-masing. Berbeda dengan mas Sutra,
pancing mereka hanyalah sebuah potongan pipa dengan senar yang melilit. Ada
sedikit ukiran di sana. Dengan jurus ramahnya, mas Sutra terlihat akrab dengan
mereka.
Sembari mengganti umpan yang hanyut, mas Sutra memulai
pembicaraan.
“Sron, aku liat kok kaya seneng banget ya?” Tanya mas
Sutra.
“Iya ni mas, jarang banget aku ke pantai. Jadi sekalinya
ke pantai ya kaya gini, terlampau seneng.” Jelasku.
“Lek kamu mau ke pantai lagi bilang aku aja, nanti aku
temenin, Sron.” Mas Sutra menjelakan.
“Iya mas, makasih.” Aku kembali berlarian ke deburan
ombak menangkap bongkahan kayu yang mengapung.
Betapa beruntungnya aku bisa mengenal orang baik
seperti mas Sutra dan keluarganya. Aku yakin bahwa jika kita baik kepada orang
lain maka kebaikan itu akan berbalik ke kepada kita. Maka, aku dedikasikan
waktu-waktu yang telah aku lalui dan yang akan datang untuk berbagi kebaikan. Bismillah.
Tentunya kebaikan yang tidak muluk-muluk. Aku berharap, mereka mendapatkan
pahala yang berlimpah dan senantiasa diberkahi oleh Tuhan. Amin.
Singkat cerita, tak satupun ikan kita dapat. Mas sutra
mengajakku menuju sebuah muara di mana kita bisa membersihkan diri. Ada sebuah
kolan dengan airnya yang berwarna hijau toska. Oh Tuhan, Engkau tak hentinya
menunjukkan kuasamu. Sungguh sangat indah. Seketika kita membenamkan diri di
dalamnya. Air sejuk nan hangat.
Senja telah datang, matahari kian hilang. Mas sutra
nampaknya terlihat antusias melihat sunset, sampai ia buru-buru mengganti baju.
Setelah semua beres, baju maupun barang bawaan, tibalah saatnya kita berforo
ria. Beberapa foto berhasil tersimpan di ponselku sebagai rekam jejak aku
pernah singgah di pantai nan elok itu.
Berjalan kaki menusuri jalan untuk mencari motor, mas
Sutra memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah warung yang di depannya
terdapat puluhan tundun pisang candi. Hasrat berjualan dan bernego mas Sutra
muncul. Tanpa pikir panjang, mas Sutra langsung bercengkrama dengan siempunya. Sementara
mereka bercerita, aku asyik menikmati pemandangan yang tidak setiap hari aku
rasakan, laut biru dan langit ungu.
Di sebuah warung kecil di mana kita memarkikan motor,
dua orang nenek rupanya menanti kedatangan kita. Mereka nampaknya khawatir
kalau-kalau kita lupa. Ada seorang pria paruh baya yang ternyata selesai
mancing juga. Berbeda dengan kita, ia mengalungkan dua ekor ikan di stang
motornya. Ia bercerita bahwa tempat mancing yang ia tuju terdapat ikan yang
melimpah. Ia menyarankan kita untuk memancing di tempat yang sama jika kita
ingin memancing di pantai Ngantep lagi.
Seketika bunyi seperti bom memecah telingaku. Pelatihan
militer nampaknya akan di mulai. Sungguh bunyi terkeras yang pernah aku dengar.
Nampaknya bunyi itu akan berlanjut sampai tiga kali. Si nenek menjelaskan bahwa
sudah terbiasa di sana dijadikan tempat pelatihan militer. Mas sutra mulai
mengeluarkan motornya dan mengulurkan helm padaku. Tidak lupa kita pamit dan
berjanji untuk kembali untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Ohh Ngantep, aku
berjanji akan kembali lagi, tentunya dengan hati yang mantep.


Komentar
Posting Komentar