Gunung Kawi


Sehari di Gunung Kawi

12 November 2017
Gerimis menyambut kedatangan kami saat sampai di Gunung Kawi
Akhirnya hari yang aku tunggu tiba. Setelah sekian lama hanya bisa berangan-angan dan googling tentang tempat yang sangat membuatku penasaran. Tempat yang terkenal dengan kekuatannya bisa membuat orang kaya, ya Gunung Kawi. Berita-berita tentang Gunung Kawi sudah sering aku dengar, kemisteriuannya, kemagisannya dan keajaibannya.

Seperti biasa, aku membonceng temanku. Kami menuju ke sebuah desa nan jauh dari pusat kota Malang, desa yang berbatasan langsung dengan Blitar. Tak sulit mencari tempat itu, sepanjang jalan terdapat papan penunjuk yang mengarahkan kami ke sana.

Cuaca mendung nan manja mengiringi perjalan ke sana. Hawa sejuk dan berkabut menambah nikmatnya suasana magis yang kentara. Akhirnya, sampailah kami di sana. Setelah mebayar ongkos parkir dan menyewa payung, kami menuju ke sebuah gang yang menanjak dengan rumah di kanan kirinya. Jalanan nampak licin dengan tetesan air gerimis di atasnya. Aku berhati-hati dalam mengambil langkah, begitu juga dengan Brian yang terus mengingatkanku.

Jalanan yang menanjak membuat kami sedikit berkeringat walaupun belum sampai ke tempat yang sesungguhnya. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan sholat di sebuah masjid.

Gerimis masih terdengar kala rintiknya menghantam payung kami. Perjalanan kami lanjutkan dengan sesekali melihat ke kanan kiri sisi jalan di mana warga berjualan pernak-pernik, makanan dan bunga. Nampak beberapa hotel berjejer dengan gaya Tiongkok yang khas lengkap dengan ornamen-ornemennya.
Di sepanjang jalan menuju gapura utama banyak dijumpai pedagang bunga.
Semakin jauh kami melangkah dan mendekati puncak, aroma dupa, bunga dan lilin kian menusuk hidung. Namun, aku harus menahannya. Sampailah kami ke gerbang pertama, sebuah gapura tua yang ditopang tembok putih dengan gambar yang mengelilinginya. Kerangka atap nampak rapuh jika dilihat dari bawah. Aku dan Brian melewati di bawahnya.

Dari kejauhan terlihat jalan lebih berwarna dengan gambar-gambar bunga. Kami melangkah di atasnya. Warung-warung berdiri di sepanjang jalan menuju gerbang ke dua. Tak mau kalah, hotel-hotel yang lebih bagus berdiri tegak berdampingan.

Gerimis belum usai, sampailah kami di gerbang yang ke dua. Gapura berwarna abu-abu menyambut kedatangan aku dan Brian. Namun kami sempat merasa bingung apakah kami boleh masuk ke dalam gerbang atau tidak. Brian memberanikan diri bertanya pada seorang bapa berpakaian adat Jawa lengkap. Bapa berkumis itu memberikan kami ijin masuk.

Belum satu langkahpun kaki dipijak, aroma dupa dan bunga bercampur menjadi satu mengepul di udara. Aku berusaha biasa saja. Kami susuri jalan masuk yang dibatasi oleh pagar besi. Jalan masuk itu mengarah ke bagian samping tempat peribadatan. Terdapat beberapa orang sedang menunggu di bangku besi panjang berwarna hijau dan kuning. Setelah melewati jalan masuk, kami melipir ke arah kanan dan langsung menuju ke depan tempat peribadatan yang menurutku lebih mirip tempat pemujaan. Ornamen khas Tiongkok sangat jelas terlihat dari luar. Beberapa orang bersila dan nampak sedang menunggu giliran. Bergeser ke sebelah kanan tempat pemujaan, ada sebuah masjid kecil yang sangat ramai oleh ibu-ibu. Aku sempatkan masuk sementara Brian tak yakin kami bisa memasukinya. Benar saja, saat aku sudah di dalam, pengunjung sedang khusuk sholat sementara Brian menyusulku dan memintaku untuk keluar saja.

Kembali ke depan tempat peribadatan, pengunjung masih pada di posisi mereka menunggu giliran. Sungguh tempat yang sangat bersih dan sejuk. Tak nampak satupun sampah di sana. Aku dan Brian memutuskan untuk keluar dengan melewati jalan keluar yang berkelok. (fyi: selama kita di dalam, kita tidak diizinkan untuk berfoto)

Merasa belum puas, kami memutuskan untuk menyusuri sebuah gang kecil di samping kiri gapura. Kedatangan kami di sambut oleh tiga orang penjual nasi dan bunga. Masih dengan suasana yang sama, jalanan menurun nan basah yang diapit rumah di kanan kirinya menyambut dengan hangat. Jalanan Nampak lengan hanya ada seorang gadis berambut panjang lewat begitu saja.

Sampai di ujung jalan, seorang kakek berkopiah mengarahkan kita ke sebuah sumber air. Suasan berubah, pepohonan besar berdiri tegak di samping jalan. Suara gemercik air di temani gonggongan anjing menjadi latar musik yang khas. Jalanan yang kami lewati lebih licin dan terjal dari sebelumnya.

Di sebuah ujung turunan, ada sebuah bangunan kecil. Ternyata bangunan itu adalah tempat penukaran tiket. Seorang nenek berwajah oriental menyambut kami dengan dua potong tiket masuk. Si kakek di temani seorang pria berawakan besar menggiring kami ke sebuah kolam. Lantai yang berair membuat kami berjalan pelan.

Perlahan kami memasuki sebuah kolam, ada dua gayung yang diletakkan di bibir kolam. Pria paruh baya itu bercerita bahwa jika pengunjung ingin memasuki tempat itu harus didoakan terlebih dahulu. Pria bersarung itu memulai berdoa dengan menyebutkan nama kami. Dia menyuruh aku dan Brian untuk membasuk muka, tangan dan kaki dengan air yang ada di gayung. Setelah itu, si kakek menyuruh kami untuk meletakkan uang seikhlasnya di atas sebuah sesajen mawar layu di pojok kolam.

Keluar dari kolam, kami diarahkan menuju sebuah ruangan dengan atap yang berbentuk kerucut. Sungguh ruangan yang sangat bersih. Udara lembab terasa saat kami menginjakkan kaki di lantai yang dilapisi karpet. Kami diarahkan ke sebuah ruangan dengan suasana mencekam lengkap dengan pencahayaan yang temaram. Aku dan Brian duduk bersila mengahadap pria bersarung. Ia mulai berdoa, sementara aku mencubit Brian dari belakang.

Pria itu menjelaskan kepada kami untuk membeli sesajen seharga Rp. 25.000. Sesajen itu dapat digunakan untuk meminta kekayaan pada sebuah patung berkelambu yang sesekali aku lirik bentuknya yang mengkilat. Di bagian paling belakang ada sebuah keranjang berornamen serba putih, pencahayaan nampak sangat muram. Pria berkumis itu melanjutkan penjelasannya. Ia meminta kami untuk membeli sesajen itu agar kami bisa langsung berdoa. Namun dengan bahasa Jawanya, Brian menjelaskan bahwa maksud kedatangan kami berdua hanyalah untuk jalan-jalan dan berfoto, tidak lebih dari itu. Namun tidak disangka, si pria agak sedikit memaksa agar kami membeli sesajen yang dibungkus kertas putih itu.

Usaha keras Brian menolak akhirnya dipahami oleh kedua bapa itu. Si bapa bersarung mempersilahkan kami pergi, raut mukanya nampak kesal. Mungkin karena hewan buruannya tidak masuk ke perangkapnya. Sedikit agak tergesa-gesa, kami langsung keluar dan mereka langsung mengunci ruangan. Sarung si bapa pemberi doa dikibas oleh angin, tato naga jelas terukir di betis kaki kirinya. Masih dengan muka kesalnya, ia langsung membenarkan sarung bermotif kotak-kotak yang dikenakan. Bagiku ia lebih nampak seperti preman.

Seoarang laki-laki yang sedang mengepel lantai menyapa kami, namun kami tak hiraukan. Jalanan menanjak kami lalui, nafas Brian terdengar berhembus kencang tak beraturan. Si bapa berkopiah nampak memanggil dari bawah kala kami sudah sampai di atas. Suaranya samar-samar beradu dengan gemercik air. Tanpa pikir panjang, kami sama sekali tak hiraukan bapa tua itu dan langsung meninggalkan tempat mistis terkenal itu.

Sepanjang jalan pulang, tak ada hentinya kami ucapkan syukur karena tidak termakan buaian pesugihan. Kami masih ingat Tuhan, pemilik dari segala yang ada di bumi dan langit. Terimakasih Tuhan,

Melaju ke arah jalan pulang, Brian mengendarai motor dengan santai. Kami sempatkan mampir ke Bendungan Karangkates. Bagiku bendungan yang dipadati dua sejoli yang dimabuk asmara itu biasa saja, air, jalanan, nelayan, dan pepohonan. Ada sesuatu yang membuat Bendungan Karangkates spesial menurutku yaitu kulinernya. Brian mengajakku memakan srengsengan 02, bekicot goreng dengan sambal pecel. Brian bercerita padaku bahwa 02 adalah nomor togel dengan simbol hewan bekicot. Porsinya tidak begitu banyak, namun aku lahap habis tak tersisa.

Nampaknya srengsengan 02 menjadi penutup perjalanan tak terlupakan kala itu. Sehari yang penuh arti dengan sentuhan cerita magis yang penuh misteri di Gunung Kawi. Aku berharap, suatu saat bisa datang ke sana lagi.




Komentar